Laman

Jumat, 10 Mei 2013

Si Jago Merah



Kehidupan ini tidak semuanya indah dan  tidak semua orang bisa merasakan apa yang indah dalam kehidupan ini. Begitu adilnya Tuhan kepada setiap makhluknya menjadikan berpadanan ada siang ada malam dan semuanya saling bergantian. Begitu juga status atau keadaan kita dalam kehidupan ini merupakan kehendak Tuhan, klasifikasi hidup memang adanya kaya dengan miskin. Ini yang harus kita syukuri dan manfaatkan baik kaya atau miskin. Sepertinya memang tidak semua beruntung tapi bukan tidak ada arti semuanya penuh hikmah.
Dalam kehidupan berkeluarga bapak adalah tulangpunggung keluarga. Begitu pula dengan Sarimin dia adalah seorang kepala keluarga dari tiga anak-anaknya dan satu istrinya. Kerjaanya hanya sebagai buruh bangunan. Tapi, bagi dia ini sudah nikmat dari Tuhan yang patut dia syukuri dia jalani hidup ini dengan semua harapan dan penuh rasa syukur.
Dia sangat menyayangi anak-anaknya, sebelum berangkat kerja dia mengantarkan dahulu anak-anaknya ke sekolah. Ada dua anaknya yang sedang sekolah di Sekolah Dasar (SD), Ajis anak kesatunya kelas empat dan Yuli kelas dua. Tidaklah jauh jarak sekolah dari rumahnya, sehingga dia bisa lekas kerja di proyek bangunan perumahan yang dekat dengan rumahnya. Biasanya dia pulang habis magrib karena sesudah kerjanya dia selalu menyepatkan diri untuk mengumpulkan bekas-bekas bagunan rusak yang kalau dia jual lumayan buat tambah-tambah jajan anaknya.

Rumahku



Kau bertahan akan hujan
Kau melindungiku disaat terik matahari
Kau menyelimutiku dikala malam hari
Kau mampu membuatku nyaman

Sungguh tak terhitunglah jasamu
Kemanapun aku pergi pasti rindu denganmu
Kau jadi saksi semua baik-buruku
Aku dibesarkan dalam perutmu

Hujan Pagi



Pagi biasanya cerah berubah dengan tangismu
Merintih meneteskan butir-butir kelembutan
Kerasnya kemarau beranjak memilukan
Kehidupan kembali penuh warna-warni dengan hiasan

Gersang padang tersirami olehmu
Mayat rumput hidup kembali ulahmu
Lembah tandus hijau elok berkatmu
Sirami padi di sawah alirkan derasnya sungai hasilmu

Sadarkanku bahwa malam beranjak pergi.
Hujan datang, tawarkan selimut hati,
Mengekang raga, menahan langkahku
Warna hari kau tangisi dengan kejernihamu

Pujaanku



Kau adalah pujaanku
Kau begitu indah di mata banyak orang
Begitupun di mataku
Sikapmu begitu lembut

Menghangatkan semua orang
Mendinginkan jiwa-jiwa yang panas
Indahnya dirimu
Tak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku
Hingga kini

Apapun yang kau perbuat
Membuat banyak orang suka padamu
Inginku memilikimu
Tapi tak bisa

Keadilan dalam Demokrasi



Dimasa revormasi
orang mengadakan demokrasi
Hanya satu jalan untuk bebas
Mungkin itu hanya hayalan yang tak terbalas

Hinggap rasa hilang di hati
Seperti kuman yang menyakiti
Tikus-tikus kantor yang kotor
Tidak peduli kucing molor

Kaum marjinal terpinggirkan
Kolong jembatan jadi naungan
Kerjakan pembangunan
Jangan adakan penyimpangan

Kematian



Terpisah raga dan ruh, itu yang akan terjadi
Siapapun tak akan ada yang mengira akan menghampiri
Mati hanya jembatan penuh arti
Kapanpun itu tidak akan bisa negosiasi

Angkasa boleh ditaklukannya
Planet boleh didudukinya
Bahkan bencana bisa ditanggulanginya
Tapi tidak dengan penjemput nyawa

Berharap dengan jiwa dalam balutan raga
Tidak dengan tangan bersimbah darah
Atau dengan nanah borok dan luka
Atau hanya dengan alat bikinan manusia

Kemarin, Sekarang, dan Esok



Kemarin adalah kenangan

Dia selalu membayang apa saja yang aku lakukan

Membekas setiap aku lewati

Merupa semua yang telah kujumpai



Sekarang adalah kenyataan

Nampak semua yang ada di depan pelupuk mata

Hinggap rasa, datang pikiran

Sesuatu menjadi satu menjadi makna