Pagi biasanya cerah berubah dengan tangismu
Merintih meneteskan butir-butir kelembutan
Kerasnya kemarau beranjak memilukan
Kehidupan kembali penuh warna-warni dengan hiasan
Gersang padang tersirami olehmu
Mayat rumput hidup kembali ulahmu
Lembah tandus hijau elok berkatmu
Sirami padi di sawah alirkan derasnya sungai hasilmu
Sadarkanku bahwa malam beranjak pergi.
Hujan datang, tawarkan selimut hati,
Mengekang raga, menahan langkahku
Hujan, janganlah kau pergi,
Aku masih rindu alunan nada-nadamu.
Rintikanmu seolah menyanyikan lagu
Aku masih belum siap melihat dunia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar