Laman

Jumat, 10 Mei 2013

Si Jago Merah



Kehidupan ini tidak semuanya indah dan  tidak semua orang bisa merasakan apa yang indah dalam kehidupan ini. Begitu adilnya Tuhan kepada setiap makhluknya menjadikan berpadanan ada siang ada malam dan semuanya saling bergantian. Begitu juga status atau keadaan kita dalam kehidupan ini merupakan kehendak Tuhan, klasifikasi hidup memang adanya kaya dengan miskin. Ini yang harus kita syukuri dan manfaatkan baik kaya atau miskin. Sepertinya memang tidak semua beruntung tapi bukan tidak ada arti semuanya penuh hikmah.
Dalam kehidupan berkeluarga bapak adalah tulangpunggung keluarga. Begitu pula dengan Sarimin dia adalah seorang kepala keluarga dari tiga anak-anaknya dan satu istrinya. Kerjaanya hanya sebagai buruh bangunan. Tapi, bagi dia ini sudah nikmat dari Tuhan yang patut dia syukuri dia jalani hidup ini dengan semua harapan dan penuh rasa syukur.
Dia sangat menyayangi anak-anaknya, sebelum berangkat kerja dia mengantarkan dahulu anak-anaknya ke sekolah. Ada dua anaknya yang sedang sekolah di Sekolah Dasar (SD), Ajis anak kesatunya kelas empat dan Yuli kelas dua. Tidaklah jauh jarak sekolah dari rumahnya, sehingga dia bisa lekas kerja di proyek bangunan perumahan yang dekat dengan rumahnya. Biasanya dia pulang habis magrib karena sesudah kerjanya dia selalu menyepatkan diri untuk mengumpulkan bekas-bekas bagunan rusak yang kalau dia jual lumayan buat tambah-tambah jajan anaknya.
Sesampainya pulang dirumahnya.
“Mah, sudah masak?” Tanya Sarimin pada istrinya.
“Sudah Pak, anak-anak juga sudah makan barusan”. Jawab Asri tiadalain istrinya Sarimin.
“Wah alhamdulillah ya jika begitu, ini bapak bawa ba’wan panggil kasih pada anak-anak mah”.
“Ya, Pak”. Jawab Asri, sambil masuk ke ruangan tengah memberikan ba’wan bawaan suaminya pada anak-anaknya.
“Nak, ini ada ba’wan, tadi bapak belikan buat kalian. Ayo dimakan.” Kata Asri kepada anak-anaknya.
Sedangkan pada saat itu Sarimin langsung makan dengan lahapnya karena memang dia lapar habis kerja. Di proyeknya dia hanya diberikan jatah makan siang saja, untuk sore hari tidak ada jatah. Sehabis makan dia langsung bergegas ke langgar karena dia belum melaksanakan shalat magrib.
Ketika sedang berkumpul di ruangan tengah dengan anak-anak dan istrinya seperti biasa mereka isi dengan gurauan dan anak yang paling kecil dia pangkunya.
Pagi hari berikutnya dia seperti biasa melakukan kegiatannya dan pulang setelah habis magrib.
Hari ini tidak seperti biasanya dia bawa ba’wan untuk anak-anaknya karena memang dia belum menjual hasil mengumpulkan barang-barang bekasnya. Istrinya sudah mengerti jika suaminya seperti itu. Biasanya jika memang dia tidak mendapatkan uang dari sana dia selalu keliatan mukanya tidak berseri.
“Ayah, sekarang tidak menjual rongsokan lagi?” Tanya Asri sambil menatap suaminya.
“Tidak mah, tadi belum dapat banyak rongsokannya jadi tidak ada yang mau beli jika segitu harus minimal lima kilogram baru ada yang beli.”
“Emh, gitu ya sudah gak apa-apa yah. Tapi yah...” Timbal Asri sambil menghentikan perkataanya.
“Kenapa mah? Tapi apa?” Tanya Sarimin sambil menatap istrinya dengan penuh rasa penasaran.
“Gini yah, si Ajis minta uang buat bayaran SPP nya dan memang sudah dua bulan belum kita bayar, bagaimana yah dan katanya malu sama teman-temanya?” Jawab Asri sambil menundukan kepalanya terlihat seperti butiran air embun yang menetes dari pipinya.
“Ya, mah bagaimana ya sedangkan ayah belum dapat upah.”
Sarimin menengadahkan kepalanya ke atas langit-langit rumahnya yang tidak ada internitnya. Dia menguras otaknya bagaimana caranya dia mendapatkan uang untuk anak-anaknya bayar sekolah. Tapi bukan, jawaban yang ada dalam pikiran hanya penat yang dia rasakan.
Mereka tertegun seperti belum saling kenal dan merasa malu-malu untuk bercengkrama. Suara jangkrik dan hewan-hewan malam terdengar dari kejauhan. Sepertinya malam ini menjadi sunyi dan tidak ada lagi gelak tanya yang biasanya mereka lakukan di ruangan tengah. Mereka saling tatap tapi tidak berbiara tidak pula senyum apalagi tawa, hanya hela nafas yang menjadi suara dari mereka.
Akhirnya Sarimin pun mulai lagi berbicara dengan nada yang lemah.
“Mah, waktu minggu kemarin ayah pernah dapat tawaran kuli bangunan di daerah Jakarta, bagaimana mah jika ayah kuli kesana?”
“Emh, jangan atuh yah ntar kita sama siapa?” Jawab Asri seperti tidak mengizinkan suaminya beranjak pergi jauh.
“Tapi, mau gimana lagi kalau begini terus kita tidak akan bisa. Anak-anak kita sudah pada besar, nanti juga  si Dede sekolah jadi tiga tanggungjwab kita bayar sekolah mah...” Sarimin mengatakan hal itu seperti memaksa istrinya agar mengizinkannya untuk pergi ke Jakarta.
“Ya, sudah yah silakan jika itu memang yang terbaik mamah dukung saja”. Timbal Asri pada suaminya.
Dikeesokan harinya, pagi itu memang tidak secerah hari biasanya tapi aktivitas warga di kampung itu tetap seperti biasanya ada yang pergi ke kebun, pasar, sekolah, dan ke kantor.
Sarimin pagi itu bergegas pergi ke Jakarta pagi-pagi sekali setelah shalat shubuh. Dia meninggalkan anak-anak dan istrinya untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar lagi.
“Mah, ayah kemana?” Tanya Ajis pada Ibunya.
“Mau ke Jakarta dulu nak ntar juga pulang”
“Hah...ke Jakarta, kenapa tidak bilang ke Ajis mah?”
“Ayah buru-buru nak lagian tidak akan lama kok nak, biar mamah yang anterin ke sekolahnya ya.”
“Ya, mah. Tidak usah Ajis udah biasa kok mah gak apa-apa Ajis bisa sendiri mah.”
Ya sudah kalau begitu, jangan lupa hati-hati ya nak. Kalau mau nyebrang minta disebrangin saja ke Pak Jujun,ya.” Ujarnya sambil melepaskan tangan anak sulungnya itu.
“Ya mah, Ajis tahu kok, terima kasih ya mah. Assalamu’alaikum...”.  Timbal Ajis sambil menatap ibunya dan senyum manis.
“Wa’alaikumssalaam...”.
Ajis pun berangkat dengan mengayunkan tangannya dan berjalan santai sampai tidak keliatan lagi oleh ibunya. Asri memang tidaklah begitu mengizinkan suaminya untuk merantau ke tanah sebrang, tapi dengan keadaan dia terpaksa harus megizinkan suaminya itu. Selama pernikahan mereka sampai dikarunia tiga anak, Asri dan Sarimin memang pasangan yang patut dicontoh. Mereka saling mengerti dan mengisi atas semua kekurangan mereka.
Setelah anaknya sudah jauh tidak terlihat lagi bayangnya, Asri melanjutkan kegiatannya seperti biasa ibu rumah tangga yaitu beres-beres dan nyuci.
Perasaan Asri hari itu sangatlah aneh tidak seperti biasanya, wajah suamianya selalu terbayang dipelupuk matanya.
“Hemh....kenapa ya aku selalu ingat dan kebayang si ayah. Sudahlah, mungkin karena baru ditinggal saja.” Gumam Asri, perasaaanya terus menderu dengan suaminya.
Hari itu dia tidak sambil menggendong si Dede karena dia masih tidur di kamar dengan kakaknya Yuli dia tidak masuk sekolah karena sakit.
Setelah selesai dia nyuci dan beres-beres dia langsung ke dapur niatnya untuk memasak. Akan tetapi sayang sekali, persediaan berasnnya sudah habis.
“Ternyata beras sudah habis, mumpung anak-anak masih pada tidur mending beli beras dulu”.
Langsung dia keluar dan berjalan menuju toko beras yang memang lumayan jauh jaraknya dari rumahnya.
Ketika sedang berjalan dia melihat anak sebaya dengannya karena memang belumlah jelas, pagi itu masih ada embun yang menyelimuti kampung itu. Setelah dia dekat ternyata itu benar anaknya lari menghampiri ibunya.
“Mamah, mamah mau kemana, mah Yuli dan si Dede mana?” Sambil ngos-ngosan dia bertanya kepada ibunya.
Asri tidak langsung menjawab dia menatap anaknya, yang memang tidak lama karena Ajis langsung memeluk ibunya.
“Nak, kamu kenapa? Ada apa? Kenapa tidak jadi sekolah? Ada apa nak?” Tanya Asri kepada anaknya seolah-olah dia tidak memberikan kesempatan pada Ajis untuk menjawab dulu.
“Mah, ayah pergi selamanya mah”. Balas Ajis, tanpa menghiraukan pertanyaan Ibunya tadi yang nyerocos.
“Hah...? Maksudnya nak?” Asri terkejut mendengar jawaban anaknya itu.
“Ajis tadi liat mobil yang Bus Keramat yang berangkat tadi pagi terjungkal ke jurang mah.” Jelas Ajis sambil nangis dipelukan ibunya.
“Ya Allah...ya rabbi..dimana nak? Terus sudah liat ada ayah disana nak? Gimana keadaan ayah nak?” Sambil mengeluarkan airmatanya dan menggoyang-goyangkan bahu Ajis.
“Di dekat sungai Cileunyi.”
“Ya sudah ayo kita kesana cepet.” Ajak Asri sambil memegang erat tangan anaknya.
Ketika mereka berjalan beberapa langkah dari belakang ada yang memanggil dengan suara keras.
“Asri, Asri kamu mau kemana? Pulang cepet, pulang Asri, rumah kamu kebakaraaan...cepet pulang lagi Asri, Asri pulang, rumah kamu kebakaran”.
Asri pun langsung menghentikan langkahnya dan dia berbalik arah sambil melepaskan tangan anaknya dia berlari sambil menangis.
Sesampainya di depan rumahnya dia melihat kobaran api besar dari rumahnya, ternyata dia tadi sebelum berangkat dia menyalakan kompor dulu. Orang-orang pun berusaha memadamkan si Jago Merah dari rumah Asri. Dia menangis keras dan memanggil-manggil nama anak kedua dan si bungsu.
Dia berlari mau masuk ke rumahnya tapi dibelakang ada yang memegang tangannya, sambil memeluknya.
“Hah...ayah?”
“Ya, mah. Yuli dan si Dede dimana mah? Dimana mah? Di rumah?” Tanya Sarimin pada Asri.
Orang-orang pun yang berusaha memadamkan kejamnya si Jago Merah, hanya capek saja. Karena memang air yang mereka pakai untuk memadamkan kobaran api itu tidak sebanding dengan gagahnya dan rakusnya si Jago Merah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar