Kehidupan ini tidak
semuanya indah dan tidak semua orang
bisa merasakan apa yang indah dalam kehidupan ini. Begitu adilnya Tuhan kepada
setiap makhluknya menjadikan berpadanan ada siang ada malam dan semuanya saling
bergantian. Begitu juga status atau keadaan kita dalam kehidupan ini merupakan
kehendak Tuhan, klasifikasi hidup memang adanya kaya dengan miskin. Ini yang
harus kita syukuri dan manfaatkan baik kaya atau miskin. Sepertinya memang
tidak semua beruntung tapi bukan tidak ada arti semuanya penuh hikmah.
Dalam kehidupan
berkeluarga bapak adalah tulangpunggung keluarga. Begitu pula dengan Sarimin
dia adalah seorang kepala keluarga dari tiga anak-anaknya dan satu istrinya.
Kerjaanya hanya sebagai buruh bangunan. Tapi, bagi dia ini sudah nikmat dari
Tuhan yang patut dia syukuri dia jalani hidup ini dengan semua harapan dan
penuh rasa syukur.
Dia sangat menyayangi
anak-anaknya, sebelum berangkat kerja dia mengantarkan dahulu anak-anaknya ke
sekolah. Ada dua anaknya yang sedang sekolah di Sekolah Dasar (SD), Ajis anak
kesatunya kelas empat dan Yuli kelas dua. Tidaklah jauh jarak sekolah dari
rumahnya, sehingga dia bisa lekas kerja di proyek bangunan perumahan yang dekat
dengan rumahnya. Biasanya dia pulang habis magrib karena sesudah kerjanya dia
selalu menyepatkan diri untuk mengumpulkan bekas-bekas bagunan rusak yang kalau
dia jual lumayan buat tambah-tambah jajan anaknya.
Sesampainya pulang
dirumahnya.
“Mah, sudah masak?” Tanya Sarimin pada istrinya.
“Sudah Pak, anak-anak juga sudah makan barusan”.
Jawab Asri tiadalain istrinya Sarimin.
“Wah alhamdulillah ya jika begitu, ini bapak bawa
ba’wan panggil kasih pada anak-anak mah”.
“Ya, Pak”. Jawab Asri, sambil masuk ke ruangan
tengah memberikan ba’wan bawaan suaminya pada anak-anaknya.
“Nak, ini ada ba’wan, tadi bapak belikan buat
kalian. Ayo dimakan.” Kata Asri kepada anak-anaknya.
Sedangkan pada saat itu
Sarimin langsung makan dengan lahapnya karena memang dia lapar habis kerja. Di
proyeknya dia hanya diberikan jatah makan siang saja, untuk sore hari tidak ada
jatah. Sehabis makan dia langsung bergegas ke langgar karena dia belum
melaksanakan shalat magrib.
Ketika sedang berkumpul
di ruangan tengah dengan anak-anak dan istrinya seperti biasa mereka isi dengan
gurauan dan anak yang paling kecil dia pangkunya.
Pagi hari berikutnya
dia seperti biasa melakukan kegiatannya dan pulang setelah habis magrib.
Hari ini tidak seperti
biasanya dia bawa ba’wan untuk anak-anaknya karena memang dia belum menjual
hasil mengumpulkan barang-barang bekasnya. Istrinya sudah mengerti jika
suaminya seperti itu. Biasanya jika memang dia tidak mendapatkan uang dari sana
dia selalu keliatan mukanya tidak berseri.
“Ayah, sekarang tidak menjual rongsokan lagi?” Tanya
Asri sambil menatap suaminya.
“Tidak mah, tadi belum dapat banyak rongsokannya
jadi tidak ada yang mau beli jika segitu harus minimal lima kilogram baru ada
yang beli.”
“Emh, gitu ya sudah gak apa-apa yah. Tapi yah...”
Timbal Asri sambil menghentikan perkataanya.
“Kenapa mah? Tapi apa?” Tanya Sarimin sambil menatap
istrinya dengan penuh rasa penasaran.
“Gini yah, si Ajis minta uang buat bayaran SPP nya
dan memang sudah dua bulan belum kita bayar, bagaimana yah dan katanya malu
sama teman-temanya?” Jawab Asri sambil menundukan kepalanya terlihat seperti
butiran air embun yang menetes dari pipinya.
“Ya, mah bagaimana ya sedangkan ayah belum dapat
upah.”
Sarimin menengadahkan
kepalanya ke atas langit-langit rumahnya yang tidak ada internitnya. Dia
menguras otaknya bagaimana caranya dia mendapatkan uang untuk anak-anaknya
bayar sekolah. Tapi bukan, jawaban yang ada dalam pikiran hanya penat yang dia
rasakan.
Mereka tertegun seperti
belum saling kenal dan merasa malu-malu untuk bercengkrama. Suara jangkrik dan
hewan-hewan malam terdengar dari kejauhan. Sepertinya malam ini menjadi sunyi
dan tidak ada lagi gelak tanya yang biasanya mereka lakukan di ruangan tengah. Mereka
saling tatap tapi tidak berbiara tidak pula senyum apalagi tawa, hanya hela
nafas yang menjadi suara dari mereka.
Akhirnya Sarimin pun
mulai lagi berbicara dengan nada yang lemah.
“Mah, waktu minggu kemarin ayah pernah dapat tawaran
kuli bangunan di daerah Jakarta, bagaimana mah jika ayah kuli kesana?”
“Emh, jangan atuh yah ntar kita sama siapa?” Jawab
Asri seperti tidak mengizinkan suaminya beranjak pergi jauh.
“Tapi, mau gimana lagi kalau begini terus kita tidak
akan bisa. Anak-anak kita sudah pada besar, nanti juga si Dede sekolah jadi tiga tanggungjwab kita
bayar sekolah mah...” Sarimin mengatakan hal itu seperti memaksa istrinya agar
mengizinkannya untuk pergi ke Jakarta.
“Ya, sudah yah silakan jika itu memang yang terbaik
mamah dukung saja”. Timbal Asri pada suaminya.
Dikeesokan harinya,
pagi itu memang tidak secerah hari biasanya tapi aktivitas warga di kampung itu
tetap seperti biasanya ada yang pergi ke kebun, pasar, sekolah, dan ke kantor.
Sarimin pagi itu
bergegas pergi ke Jakarta pagi-pagi sekali setelah shalat shubuh. Dia
meninggalkan anak-anak dan istrinya untuk mendapatkan penghasilan yang lebih
besar lagi.
“Mah, ayah kemana?” Tanya Ajis pada Ibunya.
“Mau ke Jakarta dulu nak ntar juga pulang”
“Hah...ke Jakarta, kenapa tidak bilang ke Ajis mah?”
“Ayah buru-buru nak lagian tidak akan lama kok nak,
biar mamah yang anterin ke sekolahnya ya.”
“Ya, mah. Tidak usah Ajis udah biasa kok mah gak
apa-apa Ajis bisa sendiri mah.”
Ya sudah kalau begitu, jangan lupa hati-hati ya nak.
Kalau mau nyebrang minta disebrangin saja ke Pak Jujun,ya.” Ujarnya sambil
melepaskan tangan anak sulungnya itu.
“Ya mah, Ajis tahu kok, terima kasih ya mah.
Assalamu’alaikum...”. Timbal Ajis sambil
menatap ibunya dan senyum manis.
“Wa’alaikumssalaam...”.
Ajis pun berangkat
dengan mengayunkan tangannya dan berjalan santai sampai tidak keliatan lagi
oleh ibunya. Asri memang tidaklah begitu mengizinkan suaminya untuk merantau ke
tanah sebrang, tapi dengan keadaan dia terpaksa harus megizinkan suaminya itu.
Selama pernikahan mereka sampai dikarunia tiga anak, Asri dan Sarimin memang
pasangan yang patut dicontoh. Mereka saling mengerti dan mengisi atas semua
kekurangan mereka.
Setelah anaknya sudah
jauh tidak terlihat lagi bayangnya, Asri melanjutkan kegiatannya seperti biasa
ibu rumah tangga yaitu beres-beres dan nyuci.
Perasaan Asri hari itu
sangatlah aneh tidak seperti biasanya, wajah suamianya selalu terbayang
dipelupuk matanya.
“Hemh....kenapa ya aku selalu ingat dan kebayang si
ayah. Sudahlah, mungkin karena baru ditinggal saja.” Gumam Asri, perasaaanya
terus menderu dengan suaminya.
Hari itu dia tidak
sambil menggendong si Dede karena dia masih tidur di kamar dengan kakaknya Yuli
dia tidak masuk sekolah karena sakit.
Setelah selesai dia
nyuci dan beres-beres dia langsung ke dapur niatnya untuk memasak. Akan tetapi
sayang sekali, persediaan berasnnya sudah habis.
“Ternyata beras sudah
habis, mumpung anak-anak masih pada tidur mending beli beras dulu”.
Langsung dia keluar dan
berjalan menuju toko beras yang memang lumayan jauh jaraknya dari rumahnya.
Ketika sedang berjalan
dia melihat anak sebaya dengannya karena memang belumlah jelas, pagi itu masih
ada embun yang menyelimuti kampung itu. Setelah dia dekat ternyata itu benar
anaknya lari menghampiri ibunya.
“Mamah, mamah mau
kemana, mah Yuli dan si Dede mana?” Sambil ngos-ngosan dia bertanya kepada
ibunya.
Asri tidak langsung
menjawab dia menatap anaknya, yang memang tidak lama karena Ajis langsung
memeluk ibunya.
“Nak, kamu kenapa? Ada
apa? Kenapa tidak jadi sekolah? Ada apa nak?” Tanya Asri kepada anaknya
seolah-olah dia tidak memberikan kesempatan pada Ajis untuk menjawab dulu.
“Mah, ayah pergi
selamanya mah”. Balas Ajis, tanpa menghiraukan pertanyaan Ibunya tadi yang nyerocos.
“Hah...? Maksudnya
nak?” Asri terkejut mendengar jawaban anaknya itu.
“Ajis tadi liat mobil
yang Bus Keramat yang berangkat tadi pagi terjungkal ke jurang mah.” Jelas Ajis
sambil nangis dipelukan ibunya.
“Ya Allah...ya
rabbi..dimana nak? Terus sudah liat ada ayah disana nak? Gimana keadaan ayah
nak?” Sambil mengeluarkan airmatanya dan menggoyang-goyangkan bahu Ajis.
“Di dekat sungai
Cileunyi.”
“Ya sudah ayo kita
kesana cepet.” Ajak Asri sambil memegang erat tangan anaknya.
Ketika mereka berjalan beberapa langkah dari
belakang ada yang memanggil dengan suara keras.
“Asri, Asri kamu mau kemana? Pulang cepet, pulang
Asri, rumah kamu kebakaraaan...cepet pulang lagi Asri, Asri pulang, rumah kamu
kebakaran”.
Asri pun langsung
menghentikan langkahnya dan dia berbalik arah sambil melepaskan tangan anaknya
dia berlari sambil menangis.
Sesampainya di depan
rumahnya dia melihat kobaran api besar dari rumahnya, ternyata dia tadi sebelum
berangkat dia menyalakan kompor dulu. Orang-orang pun berusaha memadamkan si Jago
Merah dari rumah Asri. Dia menangis keras dan memanggil-manggil nama anak kedua
dan si bungsu.
Dia berlari mau masuk
ke rumahnya tapi dibelakang ada yang memegang tangannya, sambil memeluknya.
“Hah...ayah?”
“Ya, mah. Yuli dan si Dede dimana mah? Dimana mah?
Di rumah?” Tanya Sarimin pada Asri.
Orang-orang pun yang
berusaha memadamkan kejamnya si Jago Merah, hanya capek saja. Karena memang air
yang mereka pakai untuk memadamkan kobaran api itu tidak sebanding dengan
gagahnya dan rakusnya si Jago Merah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar